kebiasaan seseorang akan membentuk sebuah karakter . akan menjadi apa orang yang di tiap malamnya mendengarkan desahan nafas yang saling memburu di ruang sebelah yang berbatas triplek?
lumang mengawali petualangan gila dan jijiknya dari sebuah kamar kontrakan yang pengap. kebiasaannya mengintip orang tuanya dan pengantin baru tetangganya perlahan menyakiti jiwanya.
diam-diam lumang, laki-laki 20 tahunan itu menyimpan hasrat. ia ingin menaklukkannya dengan melampiaskannya pada sulastri, tetangga barunya itu. berhasil. dan ia menginginkan lebih lagi dan lebih lagi. saat itu ibunya datang dari pasar dan membangunkannya. nah ia menjadikan ibunya korban berikutnya.
lalu lumang ingin membanding-bandingkan "rasa" lastri dan ibunya. skenario busuk disiapkan. kedua perempuan itu diikat dan disetubuhinya bergantian didepan ayahnya telah dipalu kepalanya.
hasrat yang terus ingin dipuaskan, lumang minggat dan keluyuran di jalanan. ia mengincar perempuan-perempuan sebaya ibunya. media ramai memperbincagkannya. lalu ia mengubah strategi, ia mengincar perempuan-perempuan idiot. kini penjuru mata angin kota dipenuhi perempuan kurang waras yang perutnya membuncit.
tak ada lagi mangsa, lumang mencoba laki-laki remaja jalanan di sependek jembatan-jembatan layang. saking ngebetnya, temennya sendiri diperkosanya, sampai mati. mayatnya dibuang ke kali. sejak itu ia menyesali semuanya dengan memotong penisnya lalu melempar ke tengah jalanan. tergilas roda-roda bus dan truk.
novel ini temanya sungguh beda: tentang perkosaan yang brutal. nyaris setengah tebal dari buku ini berisi adegan kekerasan. ketika membaca, lintasan pikiranku menuju ke cerita-cerita serunya wiro ( sekarang sudah tutup) atau situs cerita porno 17tahun.com ( kabarnya domain ini akan dilelang, jadi tak bisa diakses lagi).
memang tak adegan-adegan vulgar yang membangkitkan nafsu seks. namun daya gedor tulisan wartawan ini sanggup memualkan perut. di banyak milis novel ini dipuji-puji habis. ada yang mengusulkan mendapatkan Khatulistiwa Literary Award (KLA) tahun ini.
Chavchay syaifullah menulis novel ini untuk mengatakan, pemerkosaan adalah tragedi kemanusiaan yang paling gelap, bukan semata peristiwa lumrah yang hanya dijadikan berita sehari-hari media. setuju.


