hidup yang singkat, mari kita rayakan
dailyJuly 7, 2006 7:00 am

doamasjid di hari jumat, identik dengan pengemis. tempat-tempat yang pernah aku kunjungi, dari masjid raya sampai ke masjid di basement sebuah gedung, pengemis selalu berderet.

perempuan ringkih membawa buntalan kain, ibu yang masih sangat muda menggendong bayinya atau laki-laki bertangan/berkaki  satu yang mendominasi kerumunan itu.

siapa sebenarnya mereka itu? orang-orang yang berpura-pura miskin (memang mengemis itu profesi) atau mereka adalah malaikat-malaikat yang menyamar?

para jamaah abai, tak acuh. bergegas cepat agar mendapatkan barisan paling depan,  "biar mendapatkan onta". sedikitpun tak menolehkan kepalanya ke mereka.

dari atas mimbar, khatib yang berbaju putih selutut itu memberi "kuliah". semangatnya mirip ketika akan orgasme, agar umat tidak berperilaku menyimpang. ia mendefinisikan tindakan  menyimpang itu hanya seputar seks bebas, selingkuh dan perkelaminan lainnya.

itu hanya dugaanku belaka. karena ia tak menegaskan, menelantarkan orang-orang papa, "menyimpan" bangku-bangku kosong musim penerimaan murid baru untuk diberikan ke penawar lebih tinggi atau keengganan membuang sampah pada tempatnya bukan termasuk perbuatan menyimpang.

namun ia lebih menunjukkan jeleknya suatu negara yang ia vonis melawan islam. khutbah yang hanya menyebarkan kebencian? tak seekstrim itu, namun juga tak memberikan peneduhan yang sejuk. apalagi pencerahan.

tentu saja pesan-pesan yang seperti itu tak akan membuat orang lebih iba atau lebih merasa tanggungjawab kepada lingkungannya. termasuk kepada orang-orang yang kekurangan. takwa hanya dimanifestasikan banyaknya sholat yang dilakukan.

maaf aku tak bermaksud menghina islam bukan sama sekali. aku hanya ingin mengatakan tak semua khutbah jumat itu keren. jumat depan, harus mencari masjid lain. :)

buku 2:44 am

gadis dan bungabaru sekarang aku mendapatkan novel ini setelah muncul pertama 30 tahun lalu. layak diterbitkan ulang karena novel ini terbaik versi dewan kesenian jakarta (1975), yayasan buku utama (1978) dan SEA write award (1982). penulisnya, mariane katoppo  perempuan pertama yang mendapatkan reward ini.

tema novel ini sebenarnya "usang". membahas kasih yang tak sampai macam romeo dan juliet atau siti nurbaya. bedanya mariane lebih memfokuskan perbedaan adat budaya minahasa dan batak.

kiranya tema menjadi tidak penting benar. bukankah tema-teman fiksi kebanyankan "hanya" tentang cinta, penselingkuhan, pengkhianatan dan  penderitaan? :) . namun mariane kuat dalam memilih kata-kata yang digunakan. karena dia seorang teolog, banyak kata-kata yang diambil dari al kitab: penghiburan, keampunan dosa atau penyesalan sesama.

dari novel ini juga aku baru tahu, orang minahasa tak mempunyai kosa kata terimakasih. mereka mengenal "danke" yang dipinjam dari bahasa belanda. atau "terima kase" yang diambil dari bahasa melayu.

seting novel ini tahun 1960an yang waktu itu tema kesukuan masih sensitip.

raumanen, gadis minahasa yang jatuh cinta kepada monang. cinta mereka terus berkembang sampai di sebuah tempat di puncak. saat itu malam bergerimis. di vila itu kekuatan cinta mereka diadu.

aliran cerita sudah sangat bisa ditebak, keluarga monang menolak perempuan dari "luar". ibunya lebih memilih perempuan sesuku pilihannya. dan monang memang pengecut. bukan tak mencintai raumanen, namun ia lebih patuh kepada ibu dan keluarga besarnya.

perpisahan membuat keduanya menderita. raumanen terkucil dari manusia dan Tuhannya sekaligus. ia dirawat di sebuah rumah khusus. tapi dia tak menyesalinya sampai monang bersujud di salib putih diatas batu yang bertuliskan raumanen.

raumanen dijadikan judul novel ini berasal dari  bahasa kuno minahasa yang artinya gadis pemberi kuncup. dan kiranya tepat nama itu untuk gadis yang kuncup-kuncup harapanya tak pernah mekar.