masjid di hari jumat, identik dengan pengemis. tempat-tempat yang pernah aku kunjungi, dari masjid raya sampai ke masjid di basement sebuah gedung, pengemis selalu berderet.
perempuan ringkih membawa buntalan kain, ibu yang masih sangat muda menggendong bayinya atau laki-laki bertangan/berkaki satu yang mendominasi kerumunan itu.
siapa sebenarnya mereka itu? orang-orang yang berpura-pura miskin (memang mengemis itu profesi) atau mereka adalah malaikat-malaikat yang menyamar?
para jamaah abai, tak acuh. bergegas cepat agar mendapatkan barisan paling depan, "biar mendapatkan onta". sedikitpun tak menolehkan kepalanya ke mereka.
dari atas mimbar, khatib yang berbaju putih selutut itu memberi "kuliah". semangatnya mirip ketika akan orgasme, agar umat tidak berperilaku menyimpang. ia mendefinisikan tindakan menyimpang itu hanya seputar seks bebas, selingkuh dan perkelaminan lainnya.
itu hanya dugaanku belaka. karena ia tak menegaskan, menelantarkan orang-orang papa, "menyimpan" bangku-bangku kosong musim penerimaan murid baru untuk diberikan ke penawar lebih tinggi atau keengganan membuang sampah pada tempatnya bukan termasuk perbuatan menyimpang.
namun ia lebih menunjukkan jeleknya suatu negara yang ia vonis melawan islam. khutbah yang hanya menyebarkan kebencian? tak seekstrim itu, namun juga tak memberikan peneduhan yang sejuk. apalagi pencerahan.
tentu saja pesan-pesan yang seperti itu tak akan membuat orang lebih iba atau lebih merasa tanggungjawab kepada lingkungannya. termasuk kepada orang-orang yang kekurangan. takwa hanya dimanifestasikan banyaknya sholat yang dilakukan.
maaf aku tak bermaksud menghina islam bukan sama sekali. aku hanya ingin mengatakan tak semua khutbah jumat itu keren. jumat depan, harus mencari masjid lain.
baru sekarang aku mendapatkan novel ini setelah muncul pertama 30 tahun lalu. layak diterbitkan ulang karena novel ini terbaik versi dewan kesenian jakarta (1975), yayasan buku utama (1978) dan 

