dulu pernah aku baca survey di media, semakin rendah jabatan sesorang dalam perusahaan, makin jauh rumahnya dari kantor. hanya ada beberapa orang yang tinggal di sekitar sudirman-thamrin. aku belum yakin dengan survey itu sampai minggu pagi kemarin.
rencananya berangkat ke cisauk jam enam pagi. tapi pergi bareng-bareng memang selalu ada yang telat. baru jam 09:30 perjalanan dari cileduk ke cisauk mulai. berenam kami berangkat. langit tak ada awan sedikit pun. baru beberapa menit jalan, lelehan keringat sudah sampai di dagu. motor yang dikendarai makin meraung-raung melewati jejalan manusia di tiap perempatan atau pertigaan.
apalagi di perempatan ciledug yang macetnya melegenda itu. bahu jalan minggu itu menjadi pasar. dan tepat tengah jalanan mirip terminal. pedagang berseliweran. ada rokok, buah, makanan ringan, boneka, sapu lidi, dan bunga plastik di antara mobil, motor, sepeda dan orang menyeberang. mirip pasar malam.
berhasil melewati perempatan kami terus mengikuti jalan raya sampai menemukan perumahan graha bintaro. dari sini otot-otot mata mulai kendur. jalan menjadi tampak lebar dan cukup lengang. di bahu kiri jalan ada pedagang makanan di setiap sepuluh meter. rasanya nyaman ketika melihat keluarga duduk lesehan beralas tikar dibawah pohon yang berumput hijau.
melewati perumahan elit itu, belok kanan. dari sini jalanan mulai tak rata, berlubang dan berair menggenang seperti koreng akut. semua pengendara memelankan laju kecepatannya, merayap. untung jalan ini tak begitu panjang. sampai pertigaan kami belok kiri.
kami menuju bsd. disini suasana ramai, tapi sangat teratur. perjalanan sangat lancar. pengendara mobil, motor tampak lebih manusiawi. tak ada saling serobot atau kemacetan karena pedagang kaki lima. tapi tak tampak satupun angkot yang lewat. aku jadi kepikiran, apakah semua penghuni bsd bermobil, kok angkot ngga ada?
sampai pulang pun, pertanyaan itu belum terjawab. lalu kami belok kiri. ini adalah jalan utama kota cisauk. ini adalah jalan utama kota cisauk.
aku tahu karena ada beberapa angkot yang bertuliskan cisauk-serpong. jalanan cukup lancar. makin ke arah cisauk, udara makin mengandung debu. mata terasa penuh dan perih. untung di pinggir jalan pemakaman tajug pedagang menggelar kacamata. murah meriah, hanya 9000 satunya. cukup nyaman untuk berlindung dari debu yang terkutuk itu.
lalu kami melewati perkebunan kelapa. di kanan dan kiri jalan, pohon kelapa berjajar rapi. jarak antar pohon 4 meteran. dan semua pohon sudah berbuah. di antara pohon-pohon itu, bukit bukit pasir berwarna coklat, hitam dan lainnya di tandai dengan kertas karton. dan pecahan-pecahan batu hitam pun membukit. ada lalu lalang truk-truk yang bongkar muat. pasar pasir rupanya.
suasana kampung kian meresap menyusur sampai ke otak. jadi ingat waktu kecil. sungai yang airnya coklat, jembatan pengnggalan kolonial dan model truk yang masih berkepala panjang.
telah melewati berapa puluh perumahan, semuanya bukan rumah temanku yang baru saja mendapat anugerah besar itu. "masih lama?", tanyaku. "masih setengah jam lagi, jawabnya. Ya Allah, aku jadi paham kalau dia sering mengeluhkan kecapekan setelah sampai di kantor. pernah ia mengatakan ingin menginap di kantor. tapi ternyata tak bisa tidur dengan nyenyak.
memang sih, harga adalah segalanya. makin jauh dari lingkungan kosmopolitan jakarta, harganya makin rendah. nah dia itu memilih rumah termurah di daerah yang jauh dari lingkungan kosmopilitan itu. rumahnya cukup kecil untuk sebuah keluarga kecil, dua anak laki perempuan. rumah itu berbatasan dengan kampung yang berada di sebelah kanannya.
kami pun melepas semua ketegangan dan penasaran yang selama ini tak terkatakan. kini rasa lapar yang menyerang. kuekue dan minuman dingin tak cukup mengenyahkan. aku berharap jam berjalan lebih cepat, agar makan siang segera tersaji.


