sehari setelah gempa, temen kerja menyarankan agar mendirikan posko. seperti posko-posko yang berlomba-lomba "promosi" di media dan sepanjang pinggiran jalan. namun salah satu responnya, "bikin posko itu tidak gampang. harus ada tim khusus. pertanggungjawabannya tidak mudah dan lainnya". stop. tak ada reply lagi.
teman lain lalu mengajak membantu korban gempa dengan sekedar "saweran". tak seserius posko yang harus menyewa akuntan publik. toh dermawan-dermawan yang dimintai sumbangan hanya sekitar sendiri. mereka sudah saling percaya.
sampai hari ketiga, postingan itu tak ada reaksi sama sekali. ini akhir bulan. dan ada tambahan pendapatan luar biasa, bonus. sebegitu tak pedulinya teman-temanku?
tak perlu berprasangka buruk dulu! bisa jadi mereka sudah menyumbang di tempat lain. toh dia tak akan kesulitan mendapatkan posko. tinggal mampir di atm, klik alamat internet, atau pencet-pencet tombol keypad di hp. begitu mudah dan "personal". bukankah beramal itu kegiatan yang tak perlu disuarakan?
bisa jadi benar. namun ada kemungkinan lain juga. besarnya pendapatan ( kali ini plus bonus) akan meningkatkan kualitas konsumsi. semakin orang mempunyai banyak uang, semakin pengeluaranya juga besar. namun kebutuhan untuk dirinya sendiri lho. dia menjadi orang pelit. (ini hanya dari pikiran-pikiran buruk belaka yang melintas-lintas).
atau barang kali teman-teman tidak mempercayai pengumpul sumbangan itu? sebegitu brengsekah pengumpul dana itu? saya yakin ini salah besar. bukankah ini bukan pertama kalinya diadakan? sewaktu sunami aceh, saat ada perayaan perkawinan atau penyambutan bayi, pengumpulan dana itu lancar.
jadi kira-kira kenapa?
"harus pakai cara lain! jangan menunggu tapi menjemput uang". namun temanku itu menolak untuk "mengemis". alasan dia, kalau mau menyumbang pasti dia akan datang kesini (ke mejanya). lalu dicari jalan tengah, hari jumat nanti, akan disediakan kotak di samping kasir. orang-orang akan dengan jelas paham apa maksudnya, saat mengambil uang makan mingguan.
mudah-mudahan dapat banyak, dan bermanfaat bagi seuprit orang jogja-jateng.
dulu banget, ketika pelajaran ilmu alam pertama kali, guru mengajarkan tentang makhluk. ada dua macam, hidup dan tak hidup. rupanya tak sepenuhnya tentang itu benar. aku pernah mendengar, makhluk itu ternyata semuanya hidup.
senangnya dapat bonus. sekian waktu tertunda lalu detik yang dinantikan itu tiba jua, telat dua hari yang dijanjikan, bonus kuartalan itu sangat berarti. sepertinya akhir bulan terasa tak penting lagi. memang jumlahnya tak menyamai, tapi tetap saja membahagiakan.
ada yang baru di metroteve pada hari raya waisak kemarin. selama dua hari itu, dia membahas tentang budha. antaranya: Archipelago:
bunuh diri, sebagian orang melihatnya sebagai suatu yang terlarang. bunuh diri adalah perwujudan bentuk putus asa yang tak terperikan. orang akan bunuh diri ketika merasa tak ada jalan keluar dari masalah yang membelitnya. aku melihatnya orang bunuh diri itu tak percaya Tuhan lagi.

