uuuhari yang masih terang tanah, berkabut. aku menyusuri jalan tikus, melangkah  diantara alang-alang setinggi pundak. tampak dari atas seperti pohon yang hanyut dalam sungai yang berkelok. aku was-was. andai ada macan yang tiba-tiba menubruk, aku pasti tak bisa mengimbangi cakar-cakar besi runcing itu.

ke kota aku hanya membawa arang kayu dua jinjing. tulang-tulang yang mengeropos makin menyedikitkan arang yang kubawa. hasil yang kuperoleh pun makin sedikit. apalagi  kayu petai cina yang ada di sekitar hutan rumahku makin langka.

aku hanya mengantarkan ke pelanggan yang sudah nyaris 15 tahun. sejak aku muda sampai sekarang, warung ayam bakarnya tetap saja ramai. dan bu sudarpi tak mau rasa ayamnya berubah. dia hanya mau membakar ayamnya dengan arang kayu petai cina.

seminggu sekali aku mengirimnya. hanya dengan berjalan kaki. aku tak mau memakai angkutan.  untuk sampai ke jalan aspal tempat menunggu angkutan, berarti tinggal setengahnya lagi. aku menolak tarikan ongkos yang model bis kota, jauh dekat sama.

dua jinjing arang kayu itu sudah lebih cukup untuk kebutuhan keluargaku yang hanya ada aku dan nyai. isteriku yang telah menemaniku sejak 55 tahun. selain membeli beras, aku selalu menyempatkan membeli kue semprong yang gampang retak itu. pernah ketika aku tergelincir   ketika gerimis, kue itu menjadi remah-remah yang nyaris menjadi tepung. dan nyai tetap senang menerimanya.

ketika ada uang berlebih, nyai selalu membagikan kepada tetangga yang kesulitan membayar spp anaknya. atau kepada tetangga yang dua hari belum makan. pasangan renta itu merasa mereka keluarga besarnya juga.

ketika kutinggalkan tadi, nyai sedang ke hutan. mengambil kayu-kayu kering yang telah dipotong-potong sejak kemarin. lalu potong-potongan kayu itu sampai di rumahnya dipotong-potong lagi menjadi lebih kecil. di tempat pembuatan arang yang berupa cerukan, kayu-kayu itu ditata.

caranya menata tidak sembarangan. lapisan paling bawah adalah bonggol kayu yang berwarna lebih gelap. lalu diatasnya ditaburi sekam padi dan lapisan atasnya lagi kayu yang lebih muda.  aku harus menunggui kayu-kayu itu semalaman.

aku paling senang ketika nyai menyeduhkan kopi pahit. suara-suara hewan malam menemaniku. begitu dahsyatnya kadang aku sampai tertidur. pernah suatu pagi, arang yang aku buat habis menjadi abu.

tapi aku tak begitu menyesali. aku merasakan hari-hariku tetap terang, tak pernah gelap sedikitpun.

berbeda dengan orang-orang yang ia temui di sepanjang perjalanan. aku melihat mereka selalu berjalan dalam kegelapan. mereka melihat sesamanya bukan dari bagian dirinya. hanya orang-orang yang mempunyai kriteria-kriteria yang sama saja yang menurutnya bagian dari kelompoknya.